Spread the love

Pemerintah RI nampak keteteran seperti banyak negara lainnya dalam menangani wabah Corona (COVID-19). Angka kasus positif meningkat tajam antara 200-800 kasus perhari meski angka kematian akibat virus ini sudah menurun. Penyebaran virus asal Tiongkok ini begitu cepat seperti tak terbendung. Jadi, apa saja penyebabnya, dan bagaimana seharusnya menanganinya?

Penyebab terbanyaknya tentu saja minimnya kesadaran menjaga social distancing yang ditetapkan pemerintah. Rakyat, terutama kalangan menengah ke bawah mau tak mau harus banyak berinteraksi di luar rumah untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya dan keluarganya. Saat kembali ke rumah, mereka sangat berpotensi menularkan virus ini. Sangat berbeda dengan kalangan ekonomi atas tak perlu ke mana pun sudah tak perlu risau dengan nafkah keluarga. Segalanya bisa didapatkan cukup dari rumah.

Jadi, sosialisasi verbal maupun tuulisan dari pemerintah takkan cukup untuk menekan rakyat agar sadar social distancing. Pemerintah harus menutup peluang rakyat banyak keluar rumah. Lalu, apa yang bisa menekan hal tersebut?

Dengan jaminan sosial yang cukup dan tepat sasaran. Teknisnya seperti apa, negara tentu lebih paham. Tapi yang (mungkin) dilupakan pemerintah adalah: Anggaran pertahanan dari APBN sangat tepat jika digelontorkan untuk penanganan wabah dan imbasnya ini. Karena saat ini negara sedang berperang, melawan COVID-19. Anggaran lain yang sangat dapat digunakan adalah anggaran Kemenag yang begitu fantastis itu.